Peringatan Keras! Dua Golongan Ulama di Hadapan Allah: Antara Beruntung dan Merugi

Pendahuluan

Dalam ajaran Islam, ulama memiliki kedudukan yang sangat mulia. Mereka adalah pewaris para nabi, pelita umat, dan penunjuk jalan kebenaran. Ilmu yang mereka miliki menjadi penuntun bagi jutaan jiwa untuk memahami agama Allah dan mengamalkaya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, di balik kemuliaan tersebut, tersimpan sebuah peringatan penting yang seringkali luput dari perhatian: bahwa kelak di hadapan Allah SWT, ulama akan terbagi menjadi dua golongan dengaasib yang sangat berbeda. Ada yang akan mendapatkan keberuntungan besar, namun tak sedikit pula yang justru akan menanggung kerugian dan celaka. Artikel ini akan mengupas tuntas tentang dua golongan ulama tersebut, agar kita dapat mengambil pelajaran dan senantiasa berhati-hati dalam menuntut ilmu dan mengamalkaya.

Keutamaan Ulama dalam Islam

Sebelum membahas lebih jauh tentang dua golongan ini, penting untuk mengingat kembali betapa agungnya kedudukan ulama dalam pandangan Islam. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Fathir ayat 28: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa ulama adalah orang-orang yang memiliki tingkat ketakwaan tertinggi karena pemahaman mendalam mereka terhadap keagungan dan kekuasaan Allah. Rasulullah SAW juga bersabda: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang sempurna.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Ulama adalah garda terdepan dalam menjaga kemurnian ajaran Islam, menjelaskan hukum-hukum syariat, serta membimbing umat menuju jalan yang lurus. Tugas mereka adalah menyeru kepada kebaikan (amar ma’ruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar) dengan hikmah dan teladan yang baik. Oleh karena itu, tanggung jawab yang mereka emban sangatlah besar, dan inilah yang menjadi penentu nasib mereka di akhirat kelak.

Ulama Golongan Pertama: Ilmu yang Bermanfaat dan Diamalkan

Golongan pertama adalah para ulama yang ilmunya bermanfaat, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Mereka adalah ulama yang tulus (ikhlas) dalam menuntut dan menyebarkan ilmu semata-mata karena Allah SWT. Ciri-ciri mereka antara lain:

  • Ikhlas dalam Berdakwah: Mereka tidak mencari pujian, popularitas, harta, atau kedudukan duniawi. Tujuan utama mereka adalah ridha Allah dan penyebaran agama-Nya.
  • Mengamalkan Ilmu: Mereka adalah contoh nyata dari apa yang mereka ajarkan. Ilmu yang mereka miliki tidak hanya sekadar teori, tetapi menjelma dalam setiap perilaku dan perkataan mereka.
  • Tawadhu’ (Rendah Hati): Meskipun memiliki ilmu yang luas, mereka tetap rendah hati, tidak sombong, dan senantiasa merasa membutuhkan bimbingan Allah.
  • Istiqamah dalam Kebenaran: Mereka teguh pendirian di atas kebenaran, tidak takut celaan, dan tidak terpengaruh oleh godaan dunia.
  • Membimbing Umat dengan Hikmah: Mereka menyampaikan dakwah dengan cara yang santun, mudah dipahami, dan sesuai dengan kondisi masyarakat.

Para ulama dari golongan ini adalah mutiara umat. Mereka akan mendapatkan ganjaran yang besar di sisi Allah, diangkat derajatnya, dimasukkan ke dalam surga, dan bahkan diizinkan untuk memberikan syafaat kepada orang-orang yang dikehendaki Allah. Ilmu yang mereka tinggalkan akan terus mengalir pahalanya meskipun mereka telah wafat.

Ulama Golongan Kedua: Ilmu yang Tidak Diamalkan atau Disalahgunakan

Ini adalah golongan ulama yang patut diwaspadai dan menjadi sumber peringatan bagi kita semua. Mereka adalah ulama yang meskipun memiliki ilmu agama, namun ilmunya tidak mendatangkan manfaat sejati, bahkan berpotensi menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri. Beberapa karakteristik ulama golongan ini adalah:

  • Mencari Dunia dengan Ilmu Agama: Mereka menjadikan ilmu sebagai alat untuk mencapai popularitas, harta, kedudukan, atau pujian manusia.
  • Tidak Mengamalkan Ilmu: Mereka pandai berbicara tentang kebaikan, namun jauh dari pengamalan. Mereka menyuruh orang lain berbuat baik, sementara diri mereka lalai.
  • Menyembunyikan Kebenaran: Demi keuntungan pribadi atau kelompok, mereka berani menyembunyikan ayat-ayat Allah atau menyelewengkan maknanya.
  • Menjadi Alat Penguasa Zalim: Mereka menggunakan fatwa atau ilmu mereka untuk membenarkan tindakan penguasa yang zalim atau bertentangan dengan syariat Islam.
  • Sombong dan Riya’: Ilmu yang mereka miliki justru membuat mereka merasa lebih tinggi dari orang lain, dan setiap amal mereka didasari oleh keinginan untuk dipuji (riya’) atau didengar (sum’ah).

Mengenai golongan ini, Rasulullah SAW bersabda, seperti dalam hadis sahih yang diriwayatkan Muslim, tentang tiga golongan yang pertama kali dihisab dan dicampakkan ke neraka. Salah satunya adalah seorang alim yang menuntut ilmu agar disebut sebagai seorang alim, dan ia telah mendapatkan julukan itu di dunia, sehingga di akhirat ia dicampakkan ke neraka. Hadis ini menegaskan betapa bahayanya ilmu yang tidak disertai dengan keikhlasan dan pengamalan. Ilmu yang seharusnya menjadi penerang justru menjadi saksi atas kemaksiatan dan kesombongan pemiliknya.

Mengapa Ilmu Bisa Menjadi Bencana?

Ilmu pengetahuan agama, yang seharusnya menjadi cahaya dan petunjuk, bisa berubah menjadi bencana apabila tidak didasari oleh niat yang benar dan tidak dibarengi dengan ketakwaan. Beberapa alasan mengapa ilmu bisa membawa kerugian:

  1. Niat yang Salah: Jika tujuan utama menuntut ilmu adalah untuk mendapatkan kedudukan, harta, pujian, atau popularitas, maka ilmu tersebut tidak akan berkah dan justru menjadi beban di akhirat.
  2. Ketiadaan Amal: Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Allah SWT sangat membenci orang yang berkata tetapi tidak melakukan apa yang dikatakaya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah As-Saff ayat 2-3.
  3. Sifat Sombong: Semakin berilmu seseorang, seharusnya semakin tawadhu’. Namun, bagi sebagian orang, ilmu justru menumbuhkan kesombongan dan merendahkan orang lain.
  4. Godaan Dunia: Dunia dengan segala kemilau dan tawaraya seringkali memalingkan seorang ulama dari tujuan aslinya. Kekuasaan, harta, dan jabatan menjadi godaan yang sulit ditolak.
  5. Riya’ dan Sum’ah: Keinginan untuk dilihat dan didengar orang lain adalah penyakit hati yang sangat berbahaya, terutama bagi orang yang berilmu. Amalan yang seharusnya tulus karena Allah menjadi sia-sia karena niat yang tercampur.

Hikmah dan Pelajaran bagi Kita

Kisah tentang dua golongan ulama ini bukan hanya peringatan bagi para cendekiawan agama, tetapi juga bagi setiap Muslim yang menuntut ilmu, sekecil apa pun itu. Beberapa pelajaran yang bisa kita ambil:

  • Pentingnya Keikhlasan: Niat adalah pondasi segala amal. Pastikaiat kita dalam menuntut dan menyebarkan ilmu semata-mata karena Allah.
  • Keseimbangan Ilmu dan Amal: Jangan hanya fokus pada penguasaan teori, tetapi juga berusaha untuk mengamalkan setiap ilmu yang kita dapatkan. Jadilah teladan bagi diri sendiri dan orang lain.
  • Menjaga Hati dari Penyakit: Hindari kesombongan, riya’, tamak, dan cinta dunia yang berlebihan. Penyakit hati dapat merusak keberkahan ilmu.
  • Bertanggung Jawab atas Ilmu: Setiap ilmu yang kita miliki adalah amanah. Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas bagaimana kita menggunakan dan menyebarkaya.
  • Berdoa untuk Dijauhkan dari Ulama Su’: Selalu berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari menjadi golongan ulama yang merugi dan celaka, serta diberikan kekuatan untuk menjadi ulama yang ikhlas dan bermanfaat.

Kesimpulan

Kedudukan ulama di hadapan Allah SWT adalah sebuah amanah agung yang membawa konsekuensi besar di akhirat. Dua golongan ulama ini menunjukkan bahwa kemuliaan ilmu tidak serta-merta menjamin kebahagiaan abadi. Hanya ulama yang tulus, mengamalkan ilmunya, dan menjauhkan diri dari godaan duniawi yang akan meraih keberuntungan sejati. Sementara itu, ulama yang mencari popularitas, menyalahgunakan ilmu, atau tidak mengamalkan apa yang dikatakaya, justru akan menanggung kerugian yang amat besar. Semoga kita semua, baik yang bergelar ulama maupun penuntut ilmu, senantiasa diberikan hidayah untuk berada di golongan pertama, golongan yang ilmunya menjadi saksi kebaikan dan penghantar menuju ridha Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *