Bagi sebagian besar kita, ibadah umroh adalah momen sekali seumur hidup yang penuh makna. Tentu saja, wajar jika kita ingin mengabadikan setiap detik di Tanah Suci, mulai dari pemandangan Ka’bah yang megah, keindahan Masjid Nabawi, hingga kebersamaan dengan rombongan. Di era digital ini, ponsel seolah jadi bagian tak terpisahkan, bahkan saat beribadah.
Namun, pernahkah terlintas pertanyaan di benak Anda, “Sebenarnya, boleh tidak sih kita banyak-banyak berfoto di Tanah Suci saat Umroh? Bagaimana ya aturaya agar tidak mengganggu kekhusyukan?” Pertanyaan ini sangat relevan, mengingat Tanah Suci adalah tempat yang penuh adab dan kemuliaan. Yuk, kita bedah tuntas aturaya agar niat ibadah tetap terjaga dan kenangan pun bisa terukir indah.
Boleh Saja, Asal Tahu Batasnya: Aturan Umum Berfoto di Tanah Suci
Secara umum, mengambil foto atau video di area publik di Tanah Suci, baik di Makkah maupun Madinah, diperbolehkan. Pemerintah Arab Saudi tidak melarang secara mutlak. Namun, ada aturan dan etika yang sangat ketat yang harus dipatuhi. Intinya adalah, Anda boleh mengabadikan momen, asalkan tidak melanggar adab, mengganggu ibadah orang lain, atau berlebihan hingga melupakan tujuan utama Anda berada di sana: beribadah.
Prinsip dasarnya adalah menghormati kesucian tempat, privasi jamaah lain, dan menjaga ketertiban umum. Mengambil foto harus dilakukan dengan bijak, tidak mencolok, dan tidak menjadi prioritas utama. Ingatlah selalu bahwa Anda adalah tamu Allah di rumah-Nya.
Area Mana yang Boleh dan Sebaiknya Dihindari untuk Berfoto?
Penting untuk memahami di mana saja Anda bisa berfoto dengan leluasa dan di mana Anda harus sangat berhati-hati, bahkan sebaiknya tidak berfoto sama sekali.
Area yang Umumnya Diperbolehkan:
- Area luar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi: Banyak spot indah di pelataran masjid, hotel, atau sepanjang jalan yang bisa Anda jadikan latar foto.
- Hotel dan akomodasi: Tentu saja, di dalam kamar atau area publik hotel Anda bebas berfoto.
- Tempat-tempat sejarah atau wisata (dengan izin): Saat ziarah ke Jabal Uhud, Jabal Rahmah, atau Quba, umumnya diperbolehkan, namun tetap jaga etika.
- Perjalanan dan transportasi: Momen di bus atau bandara bisa Anda abadikan.
Area yang Sebaiknya Dihindari atau Dilarang Keras:
- Di dalam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, terutama saat ibadah: Meskipun tidak ada larangan mutlak, sangat tidak dianjurkan berfoto atau selfie saat tawaf, sa’i, atau shalat berjamaah. Ini akan mengganggu kekhusyukan diri sendiri dan jamaah lain. Hindari berdiri di tengah jalur tawaf atau sa’i hanya untuk berfoto.
- Di depan Ka’bah dengan pose berlebihan: Selfie yang terlalu dekat hingga membelakangi Ka’bah dan menghadap jamaah lain, atau pose yang mencolok, sangat tidak sopan.
- Area khusus wanita: Mengambil foto di area shalat khusus wanita di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tanpa izin sangat dilarang dan merupakan pelanggaran privasi.
- Memotret orang lain tanpa izin: Terutama jika orang tersebut sedang beribadah atau terlihat tidak nyaman. Hormati privasi mereka.
- Area sensitif: Kantor pemerintahan, pos keamanan, atau lokasi militer. Jangan pernah mengambil foto di area tersebut.
- Saat ada teguran dari petugas: Jika Anda ditegur petugas keamanan atau Askar, segera patuhi. Mereka bertugas menjaga ketertiban.
Etika Berfoto: Jaga Adab, Niatkan Ibadah
Niat adalah segalanya. Saat berfoto, niatkan untuk mengenang perjalanan spiritual Anda, bukan untuk pamer atau sekadar ikut-ikutan. Berikut beberapa etika penting:
- Prioritaskan ibadah: Fokuslah pada doa, zikir, dan shalat Anda. Jangan sampai terganggu oleh keinginan berfoto.
- Jangan mengganggu: Pastikan Anda tidak menghalangi jalan, mengganggu pandangan, atau membuat kebisingan saat berfoto. Jangan gunakan flash di dalam masjid, terutama saat banyak orang atau gelap.
- Bersikap rendah hati: Ingatlah bahwa Anda berada di tempat yang suci. Hindari pose-pose yang mencolok atau kurang sopan.
- Jaga kebersihan: Jangan meninggalkan sampah atau merusak fasilitas demi mendapatkan foto yang bagus.
Tips Praktis Berfoto yang Sopan dan Khusyuk
Agar Anda bisa tetap mengabadikan momen tanpa melupakan tujuan utama, coba terapkan tips berikut:
- Pilih waktu yang tepat: Hindari jam-jam sibuk saat masjid sangat padat. Lebih baik ambil foto di waktu sepi, seperti setelah shalat Isya atau Shubuh, atau di luar waktu shalat wajib.
- Gunakan ponsel secara bijak: Ponsel lebih praktis dan tidak mencolok dibanding kamera profesional. Atur mode senyap agar suara jepretan tidak mengganggu.
- Fokus pada pemandangan, bukan selfie berlebihan: Daripada terlalu banyak selfie yang membelakangi Ka’bah, lebih baik ambil foto pemandangan Ka’bah, arsitektur masjid, atau langit yang indah.
- Minta izin jika memotret orang lain: Ini adalah bentuk penghormatan terhadap privasi.
- Manfaatkan fitur video singkat: Daripada mengambil puluhan foto, kadang video singkat bisa lebih merekam suasana dan jauh lebih mudah dilakukan tanpa mengganggu.
- Bawa memori dalam hati: Kadang, pengalaman dan perasaan yang tersimpan dalam hati jauh lebih berharga daripada seribu foto. Nikmati momen dengan mata dan hati Anda.
Kesalahan Umum Jamaah Saat Berfoto di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi
Baca Juga : Baitul Hikmah: Jantung Intelektual Baghdad dan Warisan Emas Ilmu Pengetahuan Dunia
Beberapa kesalahan yang sering dilakukan jamaah adalah:
- Berhenti mendadak di tengah jalur tawaf/sa’i: Ini sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kecelakaan atau mengganggu kelancaran ibadah ribuan jamaah di belakang Anda.
- Mengambil foto/video saat imam sedang khotbah atau memimpin shalat: Ini menunjukkan ketidakfokusan pada ibadah dan kurangnya rasa hormat.
- Menggunakan tripod atau peralatan besar: Selain merepotkan, ini bisa menghalangi atau membahayakan jamaah lain.
- Selfie berlebihan di depan Ka’bah: Terlalu banyak berpose dan melupakan bahwa di belakang Anda ada ribuan orang yang ingin beribadah dengan tenang.
- Tidak menghiraukan teguran petugas: Petugas keamanan di Tanah Suci memiliki wewenang untuk menegur dan bahkan menyita alat fotografi jika dianggap melanggar aturan.
Jadikan Ibadah sebagai Tujuan Utama, Foto sebagai Bonus
Melakukan ibadah umroh adalah perjalanan spiritual yang luar biasa. Setiap momen di Tanah Suci adalah anugerah yang patut disyukuri. Memotret memang bisa menjadi cara indah untuk mengenang momen ini, namun jangan sampai keinginan berfoto menggeser niat utama Anda untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Biarkan hati dan jiwa Anda menjadi “kamera” terbaik yang merekam setiap lantunan doa, setiap tetesan air mata di depan Ka’bah, dan setiap langkah khusyuk di Raudhah. Foto-foto fisik hanyalah pelengkap. Semoga perjalanan umroh Anda dipenuhi berkah, kekhusyukan, dan menjadi umroh yang mabrur. Amin.